Terapi Penyembuhan Penyakit-Penyakit yang belum ada obatnya di Indonesia Maupun dunia, seperti: HIV/AIDS, Kanker, Stroke, Diabetes, Jantung. Kami adalah satu-satunya pengobatan di Indonesia maupun dunia yang berani memberikan program GARANSI UANG KEMBALI ! Untuk info lebih lanjut, hubungi : 081803507499 BlackBerry Messenger : 297017A2
Senin, 05 September 2011
Kaum Muda, Waspadai Kolesterol Tinggi
Rabu, 24 Agustus 2011
Bahagia Berlebihan, Usia Lebih Pendek?
Jika Anda mengira kebahagiaan bisa membawa seseorang hidup panjang umur, pikirkan ulang. Sejumlah ilmuwan justru mengklaim orang-orang yang ‘terlalu bahagia’ cenderung meninggal lebih muda.
Para ilmuwan meyakini bahwa anak-anak yang memiliki sifat “terlalu ceria” akan meninggal lebih muda ketimbang teman-teman mereka yang lebih tertutup. Alasannya, anak-anak dengan sifat seperti ini akan menjalani gaya hidup bebas yang tidak jarang mengandung resiko dan tidak sehat.
Selain itu, orang-orang dengan kepribadian terlalu ceria ini lebih mungkin memiliki masalah kejiwaan seperti depresi bipolar, yang menyebabkan penderitanya mengalami perubahan emosi ekstrim dari luar bisa bahagia menjadi sedih berlebihan.
Pada studi ini, para peneliti dari berbagai universitas meneliti data anak-anak dari tahun 1920-an hingga mereka berusia lanjut. Dari penelitian itu, mereka mendapatkan statistik bahwa anak-anak yang dinilai terlalu ceria ternyata memiliki usia lebih pendek ketimbang teman-teman sekelasnya yang lebih pendiam.
Salah satu peneliti, Professor June Gruber, menilai banyak orang memaksakan diri untuk berbahagia namun akhirnya justru kecewa karena kenyataan yang terjadi tidak sesuai ekspektasinya.
“Ketika seseorang bersikap terlalu ceria dengan harapan hal ini akan membuat mereka bahagia, itu justru bisa mengakibatkan rasa kecewa,” jelasnya.
“Indikator kebahagiaan paling kuat bukanlah uang atau pengakuan atas kesuksesan maupun ketenaran seseorang. Melainkan memiliki hubungan sosial yang berarti,” lanjut Gruber.
“Artinya cara terbaik untuk meningkatkan kebahagiaan anda adalah berhenti merasa khawatir apakah Anda bahagia atau tidak. Sebaiknya, alihkan energi Anda untuk membangun hubungan sosial Anda dengan orang lain,” pungkasnya.
Hasil studi ini sendiri telah dipublikasikan di jurnal Perspective on Psychological Science.
Selasa, 23 Agustus 2011
Diare Masih Jadi Momok
Diare masih merupakan penyakit nomor 5 penyebab kematian untuk kelompok semua umur, dan nomor 2 untuk balita di dunia, termasuk Indonesia. Penyebab diare antara lain karena anak mengalami dehidrasi, dan kurangnya kesadaran pada masyarakat terhadap pola hidup yang bersih dan sehat. Penyakit diare bisa disebabkan oleh kuman, dan dapat menjangkiti siapa pun dari segala usia dan lapisan masyarakat. Penyebab lainnya adalah pola hidup yang tidak sehat dan tidak bersih yang dimulai dari lingkungan terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga.
Dokter Helmin Agustina, Medical Manager Consumer Health Divison PT Kalbe Farma Tbk, menuturkan penyebab diare terdiri dari 2 macam, yaitu infeksi dan bukan infeksi. Infeksi bisa menyerang saluran pencernaan dengan penyebab virus, bakteri, dan protozoa.
Yang bukan infeksi dapat disebabkan dari obat, alergi makanan, intoleransi, gangguan absorsi makanan dari jenis makanan tertentu.
“Kuman-kuman penyebab diare masuk ke tubuh bersamaan dan menyerang sistem pencernaan. Diare ditandai dengan buang air besar lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi cair, atau lebih dari 70 % adalah air, dan volume yang banyak. Selain itu juga disertai gejala mual, kembung, perut melilit, dan demam,” ujarnya.
Dia menyebutkan diare tidak ditanggulangi dengan baik, akan berujung pada kematian. Penyakit tersebut bisa diatasi dengan pengobatan yang tepat, dan bisa dicegah dengan memperhatikan kebersihan.
Untuk itu PT BKB UFO Syariah, melalui produknya XAMthone Plus, memberikan perhatian serius dalam mengurangi angka kematian akibat diare. Caranya dengan mendukung program Indonesia sehat dalam kampanye Gerakan Kebersihan untuk Keluarga Sehat Indonesia 2011.
“Gerakan tersebut adalah mencuci tangan sebelum beraktivitas, memasak makanan sampai matang, membersihkan lingkungan, menutup makanan dengan tudung saji, dan memilih XAMthone Plus untuk mengobati diare dengan cara benar.”
Tak Hanya Lansia, Katarak Juga Bisa Serang Bayi
Jangan dikira katarak hanya dialami kaum lanjut usia (lansia), tapi bayi baru lahir pun ternyata juga bisa terkena katarak. Hal ini bisa terjadi karena selama di dalam kandungan bayi telah terinfeksi toksoplasma. Dalam sebulan ini, RS Mata Undaan tercatat menangani tiga bayi yang menderita katarak congenital.
Direktur RS Mata Undaan, dr. Herminiati SpM mengatakan, selama ini penderita katarak memang masih didominasi mereka yang berusia di atas 50 tahun. Namun bayi sebenarnya juga berpotensi terkena katarak. “Katarak memang bisa juga dialami oleh bayi. Hanya saja berbeda dengan para lansia, balita yang mengalami katarak disebabkan faktor congenital atau kelainan bawaan sejak lahir,” kata Herminiati, Jumat (29/4).
Ia menjelaskan, hal ini bisa terjadi pada bayi jika selama dalam kandungan janin terinfeksi rubella atau toksoplasma. “Jadi, ketika lahir, terdapat selaput tipis di matanya. Ini merupakan pertanda bayi mengalami katarak,” tuturnya.
Untuk itu, dokter spesialis penyakit mata ini menekankan, pentingnya deteksi dini, “Bagi ibu hamil teraturlah memeriksakan diri ke dokter saat hamil, jadi ketika ada virus rubella atau toksoplasma bisa segera ditangani,” ujarnya.
Selain itu, ia menyarankan, apabila petugas rumah sakit di daerah menemui kasus dan tidak bisa menangani, pasien sebaiknya langsung dirujuk ke RS khusus yang bisa memberikan penanganan sebelum terlambat.
RS Mata Undaan sendiri gencar menyosialisasikan pentingnya deteksi dini untuk mencegah kebutaan. Salah satunya dengan menggelar seminar untuk dokter umum bertema “Peran Dokter Keluarga dalam Upaya Pencegahan Kebutaan”. Acara yang digelar dalam rangka HUT RS Mata Undaan ke-78 ini akan berlangsung, Sabtu (30/4).
Herminiati mengatakan, seminar tersebut membahas beberapa penyakit mata yang banyak dialami masyarakat. Dengan begitu, ketika ada kasus, dokter umum bisa lebih dulu memberikan penanganan awal. “Minimal ada tindakan medis awal. Jika memang kondisinya parah, bisa dirujuk ke RS Mata Undaan,” katanya.
Berdasarkan data di RS Mata Undaan, tahun lalu terdapat 7.353 pasien yang berobat. Jumlah tersebut termasuk pasien yang menjalani rawat jalan dan rawat inap. Mayoritas pasien yang ditangani berada dalam tahap sedang hingga berat. Katarak sendiri termasuk lima penyakit terbanyak yang ditangani rumah sakit tersebut.
Minggu, 21 Agustus 2011
Yuk, Bergandengan Tangan Bersama Odapus!
Lupus si anak muda tokoh dalam komik itu memang lucu, tapi lupus satu ini sangat tidak lucu. Lupus adalah penyakit yang butuh perhatian dan kepedulian banyak lini, mulai deteksi hingga pengobatan.
Baru-baru ini, para pengurus Yayasan Lupus Indonesia (YLI) mendatangi kantor Menteri Kesehatan RI, dr Endang Rahayu Sedyaningsih MPH Dr PH. Ia mengharapkan semua komunitas LSM Pemerhati Lupus seluruh Indonesia untuk bekerja sama mengumpulkan data Odapus (orang dengan lupus) dengan pengelompokan sesuai peta kondisi lupus di Indonesia.
Prof. Dr. Zubairi Djoerban SpPD (KHOM) turut mendampingi pengurus YLI yang diketuai Tiara Savitri SPd. Prof. Zubairi menyatakan bahwa penanganan lupus di tingkat deteksi dini, penanggulangan, ataupun terapinya akan mudah dilakukan. Pasalnya, ketersediaan obat-obatan bagi kelompok deteksi dini telah terjamin di mayoritas puskesmas seluruh Indonesia secara gratis.
Belum diketahui penyebabnya...
Lupus adalah penyakit ”auto-immune disease” yang hingga saat ini belum diketahui penyebabnya. Sebanyak 10.314 penderita lupus ditemukan di Indonesia (data September 2010) dan angka ini terus meningkat pesat sejak kampanye mulai dilakukan YLI pada 2005.
Dengan dikenali sedini mungkin, penderita lupus yang salah satunya gejalanya berupa ruam berbentuk kupu-kupu di wajah ini akan mendapat pengobatan yang tepat. Hasilnya, angka kematian bisa berkurang yang pada akhir 2010 lalu di Indonesia mencapai lebih 400 orang.
Lupus sebagian besar adalah wanita usia produktif. Sebanyak 8 dari 10 kasus baru yang muncul menimpa wanita usia 15-60 tahun.
Fokus program pada edukasi
YLI sendiri menekankan program pada peningkatan sosialisasi agar masyarakat semakin mengenal gejala-gejala awal dan konsekuensi kesehatan akan lupus. Di antaranya dengan cara memfasilitasi proses peningkatan informasi penatalksanaan lupus bagi dokter umum, perawat, dan bidan di daerah tertinggal dengan cara membantu pencarian materi, mencetak, membagikan, juga memfasilitasi penyelenggaraan pelatihan.
Kemudian, YLI juga akan mengupayakan, bantuan pendanaan untuk membantu penderita yang kurang mampu. YLI juga melakukan koordinasi dengan organisasi lupus sedunia, sebagai upaya pembaruan data, perkembangan pengobatan, dan pelaksanaan program yang dapat diaplikasikan di seluruh dunia.
Kegiatan World Lupus Day 2011
Dalam rangka memperingati World Lupus Day 2011, YLI mengadakan serangkaian kegiatan bertema ”Knot the Spirit For Lupus People”. Kegiatan akan berlangsung di Jakarta, Bogor, dan Yogyakarta sejak 7 Mei - 9 Juli 2011.
Rangkaian kegiatan sosialisasi akan dimulai di Jakarta pada 7 Mei 2011 dengan kegiatan ”Branding on the Street” di perempatan lampu merah Taman Kota Menteng dan sekitarnya. Acara dilanjutkan dengan Malam Renungan dan Apresiasi Hari Lupus Dunia 2011.
Pada kegiatan tersebut, YLI juga akan meluncurkan buku antalogi Surat Untuk Tuhan yang telah meraih penghargaan World Record dengan kategori buku dengan jumlah penulis Odapu terbanyak.
Pada 8 Mei 2011, acara dilanjutkan dengan talkshow bertema ”Lupus Warisan Unik” di Aula Gedung PMI yang disampaikan oleh para pakar Lupus, seperti Prof. Dr. Zubairi Djoerban SpPD KHOM, Dr. Ali Sungkar SpOG (K), Dr. Nia Kurniati, SpA KAI.
Selanjutnya, akan diadakan pertemuan untuk memotivasi para Odapus yang akan dibawakan oleh motivator Sigit Risat dari Harmoni Training & Character Building, bertemakan ”Kekuatan Cinta dan Semangat”.
Acara yang sama dengan tema ”Lupus Warisan Unik” juga akan diselenggarakan di Yogyakarta, 21 Mei 2011 yang akan diramaikan pula dengan sosialisasi.
Kegiatan sosialisasi di Bogor akan diselenggarakan 9 Juli 2011 di Botani Square. Bertemakan “Lupus Warisan Unik”, acara juga akan dimeriahkan oleh G Star, kelompok musik yang menggunakan perlengkapan musik daur ulang.
Sebagai puncak rangkaian kegiatan, 12 Juni 2011 akan diselenggarakan “Walk 4 Lupus” di area bundaran HI, Jakarta, dan sekitarnya. Acara dalam rangka menarik perhatian dunia untuk “Knot The Spirit For Lupus People (Ikatan Semangat Bagi Odapus)” melalui kegiatan bergandengan tangan manusia terbanyak.
Lemak Tubuh yang Tak Teraba Lebih Berbahaya Lo...
Coba pegang perut dan pinggang Anda, adakah lipatannya? Jika iya, itulah lemak di bawah kulit. “Lemak yang satu ini tentu mempengaruhi penampilan,” kata dr Samuel Oetoro MS SpGK, pakar gizi.
Di samping lemak di bagian tersebut, ada lemak yang tidak teraba. Inilah yang berbahaya. “Sebab, ia bisa menutupi usus dan liver,” jelas Samuel.
Belakangan, lanjut Samuel, banyak orang yang mengalami timbunan intra abdominal fat. Ini berarti lemak berada tersembunyi di dalam organ. “Penderitanya memiliki profil LDL tinggi, HDL rendah, dan hormon insulin yang mengontrol kadar gula darahnya tidak bekerja.”
Kondisi itu juga dapat dialami oleh mereka yang kurus. Akan tetapi, orang obesitas memiliki risiko komplikasi lebih berat terkait kelebihan bobot. “Mulai dari stroke, kanker, penyakit sendi, empedu, dan obstructive sleep apnea,” urai Samuel.
Seseorang akan masuk dalam kategori obesitas derajat satu ketika indeks massa tubuhnya (IMT) 29,9. Obesitas derajat dua terukur dengan IMT di atas 30. Sedangkan, morbid terlihat dari IMT di atas 40.
Samuel juga mengajak masyarakat untuk mengukur lingkar pinggang. Cobalah meraba tulang iga paling bawah dan tulang pinggul lalu tarik meteran di tengah kedua bagian tubuh tersebut. Anda juga dapat melakukannya dengan mengukur lingkar pinggang bagian perut yang paling menonjol. “Pria yang lingkar pinggangnya lebih dari 90 cm dan wanita lebih dari 80 cm akan mengalami risiko penyakit yang lebih tinggi meskipun IMT-nya normal,” papar Samuel.
Ia menyarankan untuk membiasakan tubuh berolahraga untuk mencegah obesitas. bagaimana dengan obat-obatan penurun berat badan? "Lupakan saja," katanya.
Waspadai, Gagal Ginjal Sering Kali Tanpa Gejala!
Langganan:
Postingan (Atom)