Terapi Penyembuhan Penyakit-Penyakit yang belum ada obatnya di Indonesia Maupun dunia, seperti: HIV/AIDS, Kanker, Stroke, Diabetes, Jantung. Kami adalah satu-satunya pengobatan di Indonesia maupun dunia yang berani memberikan program GARANSI UANG KEMBALI ! Untuk info lebih lanjut, hubungi : 081803507499 BlackBerry Messenger : 297017A2
Rabu, 05 Oktober 2011
Seusai Operasi, Ahmad Fatih Malah Buta-Tuli
Selasa, 04 Oktober 2011
Mengapa Rokok Bisa Picu Kanker Payudara?
Seperti diketahui, tingginya tingkat hormon estrogen dan androgen sangat berpengaruh terhadap resiko munculnya kanker payudara dan endometrium, serta diabetes tipe 2. Temuan ini berdasarkan hasil pemeriksaan sampel darah dari 2.030 wanita menopause berusia 55 - 81 tahun. Peneliti menemukan bahwa wanita perokok cenderung memiliki tingkat sirkulasi hormon androgen dan estrogen yang lebih tinggi dibandingkan mantan perokok dan mereka yang tidak pernah merokok.
Temuan ini menurut peneliti rencananya akan diterbitkan dalam Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism pada bulan Oktober tahun ini.
“Peningkatkan kadar hormon seks pada mereka yang merokok menunjukkan bahwa, asap rokok selain mempunyai efek langsung beracun dan karsinogenik, juga dapat mempengaruhi resiko penyakit kronis melalui mekanisme hormonal,” kata Judith Brand, dari University Medical Center Utrecht di Belanda.
“Kabar baiknya adalah efek dari merokok tampaknya reversibel. Kadar hormon seks pada wanita akan segera menurun jika mereka berhenti merokok,” tambahnya. Brand menuturkan, dengan segera berhenti merokok maka kita akan memperoleh sejumlah manfaat kesehatan seperti misalnya, mengurangi resiko kanker, gangguan pernafasan dan penyakit jantung.
Senin, 03 Oktober 2011
Puasa dan Menghindari Gagal Ginjal
Gagal ginjal hingga memerlukan cuci darah kebanyakan merupakan akibat diabetes melitus. Jumlah kasusnya mencapai 45 persen, disusul akibat tekanan darah tinggi sebesar 28 persen.“Kegagalan ginjal akibat diabetes melitus atau nefropati diabetik bisa dicegah dengan cara mengontrol kadar gula dan tekanan darah,” kata dokter spesialis penyakit dalam Budiman Darmowidjojo dari Divisi Metabolik Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Budiman menyampaikan hal itu dalam Media Edukasi Jakarta Diabetes Meeting ke-20 bertema “Menghindari Kerusakan Ginjal pada Pasien Diabetes Melitus”. Narasumber lain adalah Kepala Divisi Metabolik Endokrin FKUI Imam Subekti.
Budiman mengatakan, gagal ginjal berupa kebocoran selaput penyaring darah pada ginjal mengakibatkan gangguan pengeluaran zat racun lewat urine. Akibatnya, zat-zat racun itu tertimbun dalam darah dan menimbulkan resiko kematian.
Beberapa gejala awal penumpukan zat racun, antara lain, sulit tidur, selera makan berkurang, sakit perut, lesu, dan sulit berkonsentrasi. Deteksi dini yang dianjurkan adalah mengukur kadar mikroalbuminuria (protein dalam urine).
Ancaman Anemia
“Dibutuhkan pemeriksaan kadar gula dan tekanan darah, serta lemak darah bagi penderita diabetes secara rutin untuk mencegah nefropati diabetik,” kata Budiman. Nefropati diabetik ditandai bengkak pada kaki dan wajah, mual, muntah, lesu, sakit kepala, gatal, sering cegukan, dan penurunan berat badan. Seringkali gejala ini tidak menimbulkan rasa sakit sehingga menyulitkan deteksi secara dini.
Imam Subekti mengatakan bahwa penderita diabetes (diabetesi) bisa menjalankan ibadah puasa. Untuk itu diabetesi perlu berkonsultasi terkait perubahan kadar obat kepada dokter lebih dulu. “Ada masalah hipoglikemi yang harus diantisipasi,” kata Imam. Hipoglikemi merupakan kondisi kekurangan kadar gula dalam darah. Menurut Imam, hipoglikemi jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan hiperglikemi (kelebihan kadar gula darah).
“Hipoglikemi dalam hitungan menit bisa merusak jaringan sel otak hingga rusak secara permanen, sedangkan hiperglikemi prosesnya dalam hitungan hari,” kata Imam.
Dalam sebuah penelitian, Imam mengatakan bahwa berpuasa bagi diabetesi memberikan manfaat penurunan berat badan sampai 50 persen. Hanya 6 persen yang justru naik berat badannya.
“Sepanjang kadar gula darah dapat dikendalikan dengan baik, diabetesi dapat berpuasa dan tetap sehat,” kata Imam.
Puasa Bikin Panjang Umur
Kita selalu dinasehati ketika sakit, yang terbaik haruslah tetap makan agar bisa menjaga tenaga kita. Sebenarnya, kenyataannya bukan itu. Jika seorang yang sakit benar-benar berpuasa, tenaga yang lebih banyak akan tersedia untuk membantu memerangi penyakit karena tubuh dibebastugaskan dari tugas mencerna makanan.
Energi yang dibutuhkan untuk mencernakan makanan sangatlah besar. Selalu ada nasehat agar tidak setelah makan atau kalau tidak dituruti kita akan kram di dalam air.
Ketika Anda berpuasa, semua energi yang ada akan difokuskan untuk mengeliminasi racun yang ada dalam badan. Sayangnya hanya binatang dan bayi yang tetap punya insting alami ini ketika sakit dan menolak untuk makan.
Dr. Ray Walford, peneliti terkenal dari UCLA mengatakan, “Mengurangi makan sejauh ini adalah satu-satunya metode yang kami ketahui secara konstan memperlambat proses penuaan dan memperpanjang jangka waktu maksimum hidup dari hewan berdarah panas. Penelitian ini tidak diragukan lagi juga dapat dipakai untuk manusia karena berlaku untuk setiap spesies yang selama ini diteliti.”
Penelitian itu juga menyimpulkan kalau membatasi masuknya makanan dalam tubuh akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memperlambat kemunduran fisiologis tubuh.
Berpuasa pada intinya adalah suatu metode untuk memberi suatu hari libur pada sistem pencernaan sehingga proses pemulihan dapat dijalankan.
Pesan di sini cukup sederhana, “Makanlah lebih sedikit, maka Anda akan hidup lebih lama.” Jagalah perut Anda maka dia akan menjaga Anda. Jadi jangan ragu lagi untuk berpuasa!
Sabtu, 01 Oktober 2011
Manfaatkan Kekebalan Tubuh, Dikembangkan Pendekatan Baru Vaksin Kanker

Para ilmuwan mengembangkan sebuah teknik menggunakan perpustakaan DNA yang diambil dari organ-organ, di mana tumor dapat membentuk dan memanfaatkan respon kekebalan tubuh untuk membuat vaksin yang dirancang untuk mengobati kanker.
Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine, peneliti dari Inggris dan AS mengatakan bahwa dalam tes awal pada tikus dengan kanker prostat, vaksin eksperimental mereka mampu mengecilkan tumor. Hal itu menunjukkan hasil pengujian dapat dikembangkan di masa depan sebagai pengobatan untuk pasien kanker.
“Menggunakan sistem kekebalan tubuh untuk mengobati kanker adalah hal menarik saat ini,” kata Alan Melcher dari University Leeds, yang ikut memimpin penelitian.
Menurutnya, apa yang dilakukan adalah untuk mengembangkan pendekatan baru yang dibangun di atas pondasi yang menjanjikan.
Melcher menambahkan, metode ini berpotensi digunakan untuk melawan bentuk-bentuk lain seperti kanker kulit atau kanker payudara. Namun pada tahap awal, penelitian itu butuh waktu beberapa tahun sebelum vaksin dapat dikembangkan untuk pengujian manusia.
Pengobatan imunoterapi - obat-obatan yang meminta bantuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit - merupakan bentuk yang relatif baru dan potensial untuk pengobatan kanker.
Obat imunoterapi disebut ipilmumab, atau Yervoy, dibuat oleh Bristol-Myers Squibb, telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) pada bulan Maret sebagai obat pertama untuk membantu pasien melanoma tingkat lanjut hidup lebih lama.
Dan April lalu, FDA menyetujui Provenge Dendreon Corp, vaksin yang dirancang untuk merangsang sistem kekebalan untuk menyerang kanker prostat.
Tidak seperti vaksin tradisional, vaksin terapeutik tidak dirancang untuk mencegah penyakit, namun untuk mengobatinya. Mereka mengandung gen untuk merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi protein yang disebut antigen, yang mengaktifkan sistem kekebalan tubuh untuk membunuh sel kanker.
Beberapa produsen obat berusaha untuk mengembangkan vaksin kanker tapi pekerjaan ini terbukti sulit karena tumor masing-masing memiliki protein spesifik dan mengidentifikasi antigen yang tepat adalah rumit. Ada juga kekhawatiran bahwa jika gen lebih banyak digunakan untuk meningkatkan peluang sukses memproduksi antigen, ini mungkin memicu respon imun yang terlalu kuat bagi tubuh untuk menangani.
Bekerja dengan para ilmuwan dari Klinik Mayo di Rochester di Amerika Serikat; tim Melcher itu membuat vaksin terbuat dari virus yang mereka rekayasa genetika untuk mengandung “perpustakaan” dari DNA termasuk fragmen beberapa gen - dan karena antigen banyak kemungkinan.
Laman Yahoo.com melansir, mereka menemukan bahwa pendekatan ini tidak mengirim sistem kekebalan tubuh ke overdrive. Sebaliknya, rentang DNA berarti vaksin mampu untuk menargetkan tumor melalui banyak rute, kata mereka.
Jumat, 23 September 2011
Kopi Turunkan Resiko Kanker Prostat?
Para peneliti menemukan bahwa para pria yang mengonsumsi enam cangkir atau lebih dalam waktu sehari, hampir 20 persen beresiko lebih rendah dalam mengembangkan kanker prostat dibandingkan dengan mereka yang tidak meminum kopi sama sekali. Penelitian itu melibatkan 47.911 pria yang secara berkala melaporkan kegiatan mereka dalam jumlah mengonsumsi kopi.
Penelitian itu melibatkan kopi yang berkafein atau bebas kafein. Penelitian yang dipublikasikan secara online di The Journal of National Cancer Institute itu merupakan salah satu penelitian yang pertama dalam menghubungkan konsumsi kopi dengan resiko lebih rendah terkena kanker prostat.
“Kami belum memberitahu ke publik agar meminum banyak kopi,” kata Kathryn M Wilson dari Harvard School of Public Health. “Hal ini juga tak perlu diragukan lagi. Kami memiliki bukti nyata dalam penelitian ini. Jadi, mereka tidak perlu khawatir jika mengonsumsi banyak kopi.”
Kopi merupakan sumber makanan utama antioksidan. Penelitian lain menyarankan bahwa meminum kopi terkait dengan adanya manfaat kesehatan, termasuk resiko rendah diabetes tipe 2.
Kamis, 22 September 2011
Kanker Prostat dan Merokok, Kombinasi Mematikan
Di antara perokok dan bukan perokok yang kankernya belum menyebar ketika didiagnosa, atau dalam bahasa medis disebut kanker non-metastatik, resiko kematian yang dihadapi perokok mencapai 80 persen.
Meski demikian, perokok yang sudah berhenti selama 10 tahun atau lebih ketika didiagnosa kanker prostat memiliki peluang yang sama dengan pria bukan perokok, baik dalam kekambuhan maupun resiko kematian.
“Data riset ini melegakan karena hanya sedikit yang kita ketahui untuk mengurangi resiko kematian akibat kanker prostat. Ini juga bisa jadi alasan untuk tidak merokok,” kata Edward Giovannucci, profesor nutrisi dan epidemiologi dari Harvard.
Penelitian tersebut mengkaji data kesehatan dari 5.366 pria yang didiagnosa kanker prostat antara tahun 1986 dan 2006. pada periode tersebut, 1.630 meninggal, 524 (32 persen) karena kanker prostat dan 416 (26 persen) karena penyakit jantung.
Kanker prostat merupakan jenis kanker yang paling banyak diderita pria di Amerika dan mengenai 1 dari 6 pria dalam hidupnya.
Langganan:
Postingan (Atom)