Rabu, 02 November 2011

Pria Lajang Rentan Tewas Kena Kanker


Dengan menikah, bukan hanya kebahagiaan yang Anda rasakan. Tapi juga kesehatan fisik dan mental yang lebih baik. wajar jika akhirnya pria yang telah menikah beresiko lebih rendah terkena kanker.


Setidaknya begitu menurut penelitian terhadap 440.000 pria dan wanita yang dilakukan oleh University of Oslo, Norwegia. Ditemukan bahwa pria lajang beresiko dua kali lebih tinggi tewas karena kanker, daripada pria yang sudah menikah.

Seperti yang disitat Daily Mail, mereka sebelumnya meneliti kematian akibat kanker 40 tahun ke belakang. Hasilnya, pria dan wanita yang belum menikah lebih sering meninggal dunia dari 13 tipe umum kanker seperti paru-paru, payudara dan prostat.

Angka kematian responden pria yang belum menikah sebesar 18 persen hingga 35 persen. Dua kali lebih tinggi dari angka kematian responden wanita yang belum menikah, yakni 17 persen hingga 22 persen.

Pada studi sebelumnya, telah ditemukan bahwa umumnya mereka yang telah menikah tidak lagi merokok dan menjadi peminum berat, yang memicu kesehatan mental yang lebih baik. ditambah lagi, mereka yang telah menikah berkonsultasi dengan dokter lebih sering karena mendapat dukungan dari pasangan. (sumber : http://waspada.co.id)

Kenali Gejala Sejak Dini dengan Pap Smear


Pada penyakit Kanker Serviks, tahap awal menimbulkan gejala yang mudah diamati. Itu sebabnya, bagi wanita yang sudah aktif seksual amat dianjurkan melakukan tes pap smear setiap dua tahun sekali.


Demikian lanjutan pemaparan dokter spesialis kandungan, Madurasmi dalam seminar Kanker Serviks di Fakultas Kedokteran Unmul, menurut Dr. Madurasmi yang sudah bertahun-tahun tugas di RSUD AW Sjahranie, gejala fisik serangan penyakit ini pada umumnya hanya dirasakan penderita kanker stadium lanjut, dan belum terlalu dirasakan pada stadium 1 dan 2.

Biasanya muncul rasa sakit dan pendarahan saat berhubungan intim (contact bleeding), keputihan yang berlebihan dan tidak normal, pendarahan di luar siklus menstruasi, penurunan berat badan drastis. Apabila kanker menyebar ke panggul, pasien akan menderita keluhan nyeri punggung yang juga hambatan dalam berkemih, serta pembesaran ginjal.

Karena itulah Madurasmi menganjurkan agar wanita-wanita yang aktif melakukan hubungan seksual untuk melakukan pap smear, “Pap Smear merupakan tes skrining untuk mendeteksi dini perubahan atau abnormalitas dalam serviks sebelum sel-sel tersebut menjadi kanker,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, pemeriksaan pap smear dilakukan dengan pemeriksaan khusus ginekologis. Sampel sel-sel diambil dari luar serviks dan liang serviks dengan melakukan usapan. Menggunakan spatula dari bahan kayu atau plastik. Setelah usapan dilakukan, sebuah cytobrush (sikat kecil berbulu halus, untuk mengambil sel-sel serviks) dimasukkan untuk melakukan usapan dalam kanal serviks. Setelah itu, sel-sel diletakkan dalam object glass (kaca objek), disemprot dengan zat untuk memfiksasi, atau diletakkan dalam botol yang mengandung zat pengawet, kemudian dikirim ke laboratorium untuk diperiksa.

“Dengan pemeriksaan dini bagi penderita, lebih memiliki kesempatan hidup lebih panjang, karena bisa langsung melakukan pengobatan,” tukasnya.

Pap smear dapat mendeteksi kondisi kanker dan prakanker dalam serviks. Biopsi (pengambilan jaringan) serviks umumnya dilakukan saat pap smear bila ada indikasi kelainan signifikan, atau bila ditemukan kelainan selama pemeriksaan dalam rutin, untuk mengidentifikasi kelainan tersebut. Hasil pap smear dinyatakan positif, bila menunjukkan perubahan-perubahan sel serviks. Biopsi (pengambilan jaringan) mungkin tidak perlu dilakukan segera, kecuali Anda dalam kategori resiko tinggi. Untuk perubahan sel yang minor, umumnya direkomendasikan untuk mengulang pap smear dalam 6 bulan ke depan.

“Hindari persetubuhan, penggunaan tampon, pil vagina, ataupun mandi berendam dalam bath tup, selama 24 jam sebelum pemeriksaan. Ini untuk menghindari ‘kontaminasi’ ke dalam vagina yang dapat mengacaukan hasil pemeriksaan,” sambungnya.

“Ingat ibu-ibu, kenali gejala kanker serviks sejak dini dengan pap smear. Kalau sudah terkena, akan banyak pengaruhnya terhadap kehidupan seks suami istri,” pesannya. (sumber : http://www.sapos.co.id)

Senin, 31 Oktober 2011

10 Gejala Umum Kanker

WALAUPUN setiap jenis kanker memiliki karakteristik dan gejala sendiri yang spesifik, ada beberapa gejala umum kanker yang sebagian besar muncul pada semua jenis kanker.

Beberapa jenis kanker memang tidak memiliki gejala khusus sampai tahap terakhir sehingga skrining rutin dan penilaian resiko merupakan suatu keharusan. Berikut 10 gejala kanker yang sebaiknya tidak Anda abaikan supaya bisa melakukan deteksi sedini mungkin.

a.      Penurunan berat badan yang tidak beralasan
Penurunan berat badan yang signifikan selama beberapa bulan tanpa sebab yang jelas dapat menjadi salah satu tanda-tanda utama Anda mungkin menderita kanker. Kondisi ini paling sering terjadi pada kanker, pankreas, perut, kerongkongan, atau paru-paru.

b. Demam
Demam mungkin berhubungan dengan beberapa jenis kanker. Hampir semua pasien kanker akan mengalami demam, terutama jika pengobatan kanker mempengaruhi sistem kekebalan tubuh.

c. Nyeri
Rasa nyeri biasanya terjadi terlambat. Kanker stadium dini biasanya tidak menimbulkan rasa sakit. Nyeri paling sering terjadi karena kanker yang telah menyebar. Kondisi ini biasanya dirasakan pada kanker tulang atau testis.

d. Perubahan Kulit
Adanya perubahan warna kulit atau warna tahi lalat yang sudah ada atau munculnya lesi baru. Kanker kulit dapat berkembang di beberapa bagian tubuh, terutama pada orang yang sering mengunyah tembakau, merokok, minum alkohol, atau luka pada kulit yang tak kunjung subuh.

e. Perubahan Pola BAB
Perubahan kebiasaan buang air besar atau fungsi kandung kemih seperti sembelit, diare, pendarahan dalam urine.

f. Bintik Putih di Lidah
Kondisi ini juga dikenal sebagai lenkoplakia yang dapat berkembang menjadi kanker rongga mulut. Leukoplakia merupakan prakanker yang disebabkan iritasi. Jika tidak diobati, leukoplakia bisa menjadi kanker mulut.

g. Pendarahan tidak Biasa
Itu bisa terjadi pada kanker tahap dini atau lanjut. Darah dalam dahak (lendir) mungkin merupakan tanda dari kanker paru-paru. Darah pada tinja bisa menjadi tanda kanker kolon atau kanker rektum. Kanker leher rahim atau endometrium (lapisan rahim) dapat menyebabkan pendarahan vagina abnormal. Darah dalam urine mungkin gejala kanker kandung kemih atau kanker ginjal. Darah dari puting mungkin tanda kanker payudara.

h. Benjolan di Payudara atau Bagian Tubuh Lain
Gejala ini dapat disebabkan oleh alasan lain, selain kanker. Dokter adalah orang terbaik untuk mengidentifikasinya. Daripada menunggu untuk gejala semakin parah lebih baik Anda menjalani pemeriksaan kesehatan berkala.

i. Gangguan Pencernaan atau Sulit Menelan
Kondisi ini biasanya berhubungan dengan kanker perut atau kerongkongan. Segera memeriksakan dan menogbatinya merupakan cara terbaik guna mencegah perkembangan lebih lanjut.

j. Batuk
Ini dapat menjadi salah satu gejala utama kanker tenggorokan. Jika batuk belum kunjung sembuh untuk waktu yang lama, mungkin merupakan gejala kanker paru-paru atau pita suara. (sumber : http://www.mediaindonesia.com)

Kamis, 27 Oktober 2011

Awas, Multivitamin Bisa Tingkatkan Resiko Kematian

Awas! Paracetamol Picu Kanker
Suplemen atau multivitamin kerap digunakan untuk menunjang kebutuhan nutrisi harian. Namun, sebuah artikel dalam jurnal Archives of Internal Medicine terbaru melaporkan, konsumsi suplemen dan mineral berhubungan dengan peningkatan angka kematian. Lho!


STUDI mengumpulkan data dari studi kesehatan pada 38.772 wanita dengan usia rata-rata 61,6 tahun di Amerika Serikat. Peneliti memeriksa penggunaan suplemen meningkat lebih dari 22 persen antara 1986 dan 2004.

Hasilnya, penggunaan multivitamin seperti vitamin B6, asam folat, zat besi, magnesium, seng dan tembaga, berkaitan dengan peningkatan resiko kematian pada populasi. Dan, konsumsi mineral zat besi dan tembaga adalah penyebab terburuk.

“Para wanita dalam penelitian termasuk di luar normal (anomali) karena mereka makan buah dan sayuran dua kali lebih banyak dari rata-rata nasional,” jelas Michael Roizen, MD dari YouDoc.

“Multivitamin membantu diet yang tidak memadai, namun tingkat kematian tinggi dalam populasi tidak dapat diuji secara akurat terhadap mereka yang berdiet dua kali rata-rata nasional.”

Penelitian ini menurut ahli adalah ‘studi antara’ yang masih membutuhkan beberapa penelitian kunci. Kemungkinannya, wanita dengan mortalitas yang lebih tinggi meningkatkan asupan multivitamin karena mereka merasa sakit dan mencoba membalikkan penyakitnya.

Roizen juga menjelaskan, studi tidak menyertakan suplemen yang meningkatkan harapan hidup seperti suplemen minyak ikan (DHA).

“Mereka tidak mempelajari asupan suplemen DHA atau minyak ikan, yang telah terbukti dapat melindungi dari degenerasi. Ini telah terbukti berguna dalam uji acak sebagai suplemen untuk wanita di atas 50. Dengan kata lain, bisa saja suplemen tidak menyebabkan tingginya kematian,” ujar Roizen seperti dikutip dari Shine.

Suplemen zat besi dan tembaga, menurut studi, menyebabkan resiko kematian lebih besar dari 5 %, namun dinilai masih lebih kecil. “Suplemen zat besi menimbulkan resiko dan disarankan hanya untuk usia 50 tahun ke atas dan hanya diresepkan dokter. Hindari suplemen zat besi dan tembaga kecuali diperintahkan dokter,” ujarnya.

Dia menyarankan, agar mengasup makanan alami untuk memperoleh manfaat dari berbagai nutrisi daripada menggunakan multivitamin.

Sebelumnya pada Maret lalu, editor majalah Today’s Health and Nutrition Madelyn Fernstrom mengatakan  ada kemungkinan seseorang bisa overdosis vitamin dan berdampak buruk pada sistem. Selama ini orang-orang hanya berpikir mana ada vitamin yang buruk, nyatanya konsumsi vitamin terlalu banyak memiliki efek yang merusak kesehatan.

Misalnya saja kalsium dan vitamin D. Dosis harian yang dianjurkan untuk kalsium adalah seribu miligram dengan batas maksimal 2.000 sampai 2.500 miligram. Kalsium sebenarnya banyak ditemukan dari susu, jeruk, brokoli atau tahu. Jadi kecil kemungkinannya orang kekurangan kalsium. Jika terlalu berlebih ada dampak negatif yang muncul seperti batu ginjal, sembelit, mudah marah dan cepat lelah.

Sedangkan untuk vitamin D, asupan yang disarankan adalah 600 sampai 800 unit sehari, dengan maksimal 4.000 IU per hari. Jika berlebih dapat menyebabkan nyeri otot dan sendi, sembelit dan kemurungan.

Namun, ahli diet dan gizi dari Beth Israel Medical Center Megan Fendt menjelaskan bahwa tidak ada bahaya nyata bagi kesehatan jika overdosis vitamin. Tubuh memberikan kompensasi pada beberapa vitamin untuk larut dalam air dam menghilang melalui urin.

Tubuh dapat membersihkan diri dari setiap kelebihan jumlah vitamin dan ini sebenarnya perlindungan tubuh terhadap racun, tapi perlu diperhatikan kalau semakin banyak vitamin yang Anda ambil maka semakin sedikit tubuh Anda dapat menyerap,” katanya.

Jadi, kalau mau sehat yang alami tetap lebih baik. (sumber : http://www.surabayapost.co.id)

Rabu, 26 Oktober 2011

Efek Mendengkur pada Kehamilan


Sebuah artikel yang dibacakan pada pertemuan SLEEP 2011 di Minneapolis mengulas resiko mendengkur bagi ibu hamil. Ngorok pada kehamilan dikaitkan dengan resiko hasil kehamilan yang buruk, terutama diabetes pada kehamilan dan kelahiran prematur. Banyak ibu hamil yang memasuki trisemester ke-2 mulai mendengkur. Kebanyakan orang masih menganggap biasa masalah dengkuran ini. Apalagi melihat pertambahan berat badan yang biasa dialami calon ibu. Tapi tahukah Anda mendengkur sama sekali bukan tanda baik?


Ngorok merupakan dari sleep apnea, henti nafas saat tidur yang terjadi sebagai akibat dari menyempitnya saluran nafas. Sleep apnea pada orang dewasa tak bisa dianggap remeh karena menyebabkan hipertensi, diabetes, berbagai penyakit jantung, stroke hingga kematian.

Sedangkan pada masa kehamilan, sleep apnea langsung berkaitan dengan peningkatan tekanan darah (preeklamsia), berat badan lahir bayi yang rendah hingga prematuritas. Pada masa kehamilan, sleep apnea dipicu oleh peningkatan berat badan dan bengkaknya saluran nafas akibat pengaruh hormon-hormon kehamilan.

Pada saat tidur, saluran nafas yang menyempit akan melemas. Akibatnya, bagian-bagian lunak saluran nafas akan bergetar dan menyebabkan suara ngorok. Namun pada kasus sleep apnea, saluran nafas saat tidur menyempit hingga aliran udara tersumbat mengakibatkan penurunan oksigen.

Sesak yang diakibatkan juga akan memotong-motong proses tidur. Kualitas tidur pun jadi terganggu. Kadar oksigen yang menurun secara berkala saat tidur akan menghambat pertumbuhan janin.

Berat badan janin pun jadi lebih kecil dibandingkan usia kehamilan. Sementara gangguan proses tidur menimbulkan reaksi berantai yang menyebabkan meningkatnya tekanan darah, kadar gula dan sel-sel inflamasi yang mengentalkan darah.

Sleep apnea dan resiko kehamilan

Sebuah riset yang diterbitkan pada jurnal Chest tahun 2000 menyimpulkan bahwa mendengkur sering ditemukan pada kehamilan dan merupakan tanda dari peningkatan tekanan darah pada kehamilan. Disimpulkan juga bahwa dengkuran calon ibu dapat menjadi tanda terhambatnya pertumbuhan janin.

Penelitian ini melaporkan, calon ibu mengalami peningkatan dengkuran seiring dengan usia kehamilan. Sebanyak 7 % pada trisemester pertama, 6 % di trisemester kedua dan 24 % saat memasuki trisemester ketiga. Sepuluh persen ibu hamil yang mendengkur mengalami preeklampsia dengan peningkatan tekanan darah dan penambahan kadar protein pada urine, sementara yang tidak mendengkur hanya 4 %.

Sebanyak 12 % ibu yang mengalami preeklampsia juga dilaporkan keluarga tampak sesak dalam tidurnya. 7,1 % janin ibu pendengkur mempunyai perkiraan berat yang rendah, sementara pada ibu yang tak mendengkur hanya 2,3%-nya saja. Jurnal SLEEP 2005, Natalie Edwards menuliskan hal yang senada. Sleep apnea bisa menyerang 14 % hingga 26 % ibu hamil.

Keparahan sleep apnea juga meningkat seiring dengan semakin lanjut usia kehamilan, memasuki trisemester ketiga. Jumlah henti napas, kadar oksigen dan tekanan darah juga terus memburuk beriringan. Perawatan sleep apnea pada masa kehamilan dengan menggunakan continuous positive airway pressure (CPAP) dilaporkan memberikan hasil yang efektif.

Laporan ini dituangkan pada the American Journal of Respiratory Critical Care Medicine Sebelas ibu dalam perawatan dan pengobatan untuk preeklamsia ditemukan mendengkur. Setelah dilakukan pemeriksaan di laboratium tidur, ditemukan adanya sleep apnea. Pemberian CPAP saat tidur ternyata dapat memperbaiki oksigenasi dan tekanan darah yang tentu saja membantu perawatan preeklamsia.

Mendengkur pada kehamilan memberikan implikasi yang serius. Sudah sepantasnya kita lebih memperhatikan kesehatan tidur calon ibu demi kesehatannya dan bayi yang akan dilahirkannya. (sumber : http://www.kentalmanis.com)

Selasa, 25 Oktober 2011

Kopi Kurangi Resiko Depresi


Mereka yang minum dua atau tiga cangkir kopi sehari menghadapi resiko depresi 15 persen lebih rendah dari mereka yang jarang melakukannya. Hal itu terungkap dalam temuan para akademisi di Harvard School of Public Health di Amerika Serikat.


Meskipun mereka menekankan studi ini tidak membuktikan bahwa kafein melindungi terhadap depresi, mereka mencatat bahwa ada dosis tertentu yang mengurangi resiko depresi. 20 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang hampir tidak pernah minum kopi.

Michael Lucas dan rekannya meneliti lebih dari 50.000 perempuan sehat, rata-rata usia 63, dan mengikuti mereka selama satu dekade.

Mereka memperkirakan konsumsi kafein mereka dalam semua jenis minuman, melalui kuisioner, dan kemudian mencari kasus depresi mereka.

Dalam jurnal Archives of Internal Medicine, para penulis mencatat bahwa dalam studi kelompok, “kasus depresi berkurang dalam dosis tertentu dengan peningkatan konsumsi kopi berkafein”.

Namun mereka mencatat bahwa itu adalah penelitian pengamatan -atau penelitian yang tidak berusaha untuk membuktikan sebab dan akibat- dan oleh karena itu, “tidak dapat membuktikan bahwa kopi kafein atau berkafein mengurangi resiko depresi, tetapi hanya menunjukkan kemungkinan seperti efek perlindungan”. (sumber : http://www.tempointeraktif.com)

Senin, 24 Oktober 2011

Dua Cangkir Kopi Sehari Kurangi Resiko Stroke

foto
Minum dua cangkir kopi sehari dapat mengurangi resiko stroke secara signifikan, menurut sebuah penelitian.


Para ahli sebelumnya terbelah soal minuman ini, di mana beberapa menyatakan kopi adalah stimulan yang berbahaya dan yang lain berpendapat bahwa kopi bisa menyelamatkan jiwa.

Tapi analisis komprehensif terhadap manfaat kesehatan dari kopi telah mengkonfirmasi bahwa kopi memiliki efek pencegahan yang kuat terhadap stroke.

Para ilmuwan di Karolinska Institute di Stockholm, Swedia, mengumpulkan hasil berbagai penelitian sebelumnya untuk mendapatkan jawaban yang definitif.

Mereka mengumpulkan statistik dari delapan studi yang menyurvei hampir setengah juta orang dilakukan dari pertengahan 1960-an hingga 2011.

Hasilnya, sebagaimana dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology, menunjukkan mereka yang minum dua cangkir kopi sehari, 14 persen lebih kecil kemungkinannya untuk menderita pembekuan pada otak, sementara minum 3 - 4 cangkir sehari dapat mengurangi bahaya itu sebesar 17 persen.

Tapi mengkonsumsi lebih dari itu tidak selalu meningkatkan proteksi, menurut penelitian itu. Mereka yang minum enam cangkir atau lebih setiap hari mengurangi resiko hanya 7 persen.

Para peneliti mengatakan antioksidan di dalam kopi dapat melindungi pembuluh darah di otak dari kerusakan yang disebabkan oleh lipoprotein, yang dijuluki kolesterol buruk. Tapi mereka menekankan masih ada tersisa kekhawatiran bahwa kebiasaan itu dapat meningkatkan tekanan darah.

Para ilmuwan mengatakan, “Kopi adalah campuran kompleks dari zat yang mungkin memiliki efek menguntungkan dan berbahaya.” (sumber : http://www.tempointeraktif.com)