Selasa, 26 April 2011

Tak Hanya Susu Cina Yang Perlu Ditakuti

Tak Hanya Susu Cina Yang Perlu DitakutiHeboh susu Cina tercemar melamin memang merisaukan. Terbayang akibat buruknya, melihat enam bayi meninggal dan ratusan memerlukan perawatan rumah sakit. Di sekitar kita, apa yang kita konsumsi dan pakai sehari-hari punya bahaya serupa.

Kita mulai dengan perabot rumah tangga. Sehatkah bahan cat tembok kita? Tidakkah mengandung bahan berbahaya formaldehyde, misalnya? Apa mainan anak-anak kita juga mengandung cat yang sama membahayakan? Botol kemasan minuman apakah juga aman? Termasuk bahan botol susu bayi, apakah bukan bisphenol A (BPA) yang juga pencetus kanker (karsinogenik)?

Bagaimana dengan kertas dan plastik pengemas kuah panas dari restoran? Apa pemanis buatan dalam penganan dan jajanan tergolong aman? Apa yang ditambahkan dalam kecap, saus tomat, dan sirop murah bukan bahan tambahan berbahaya?

Kita menyaksikan di TV, ada sampo palsu dibuat dari bahan kimia berbahaya. Begitu juga pemutih kulit, cat merah untuk ikan kakap, atau formalin pembeku ikan, tahu, tempe, dan boraks buat bakso. Tanpa pengawet, kerang kita sudah tercemar logam berat karena cemaran industri sudah masuk ke biota laut di pelabuhan.
Bagaimana mungkin kita mengelak dari semua itu, kendati tahu?

Tercemar sejak bayi
Bagaimana dengan jamu nakal buatan rumahan yang dicampur obat dan entah apa lagi, yang tak bisa dipertanggungjawabkan keamanannya? Berapa banyak herbal, obat tradisional, dan penyembuhan alternatif yang memasukkan bahan tak aman ke dalam tubuh? Sebagian herbal Korea dan Cina, Sudah ditarik dari pasar (WHO).

Kita lupa kalau buah impor tidak semuanya aman. Sayur lokal pun belum tentu bebas herbisida dan pupuk kimia, kalau dikonsumsi mentah. Zat kimia pada kulit apel, berapa tahun mencemari usus kita? Belum jelas pula apa dampak buruk mengonsumsi ternak dan pertanian hasil rekayasa genetik.

Anda gemar ikan asin? Sudah pasti mengandung nitrosamine, pencetus kanker juga; selain mungkin sudah dibubuhi obat nyamuk agar tak tumbuh belatung. Bagaimana dengan ikan asap, daging asap, dan gosongnya menu bakaran dengan ancaman kanker, sudahkah Anda insafi?

Industri juga sudah membuat udara dan lingkungan kebanjiran bahan kimia dioksin. Bahan ini sudah mencemari bagian mana saja lingkungan kita. Bahkan, makanan bayi pun dilaporkan sudah tercemar bahan ini. Generasi sekarang sudah tercemar aneka bahan berbahaya sejak bayi.

Minyak goreng dicampur plastik supaya gorengan renyah bukan cerita baru. Minyak jelantah penjaja gorengan pun bekas restoran ayam goreng.

Hormon penggemuk ayam
Sudah pastikah telur yang kita konsumsi bukan telur palsu dari bahan kimiawi buatan Cina? Apakah daging ayam bebas hormon penggemuk? Apa hormon juga tidak ditemukan dalam daging sapi? Bahaya hormon bisa bikin kanker organ reproduksi, selain anak jadi lekas pubertas.

Sudah bebaskah udang kita dari antibiotika? Bagaimana beras yang dibuat tambah putih? Bagaimana nasib orang-orang di jalan padat lalu lintas, di persimpangan kota besar? Udara sudah sangat tercemar, sebagian tidak aman bagi tubuh.

Tahukah Anda es batu yang dijual belum tentu bebas kuman? Kalau airnya tidak steril, bagaimana menjamin es batu tidak bikin orang mencret. Bagaimana penjaja buah dingin, rujak, dan jajanan lain sucihama? Sekadar diare sudah bikin kehilangan hari kerja, ongkos berobat, dan produktivitas. Anak mencret terhambat tumbuh-kembangnya.

Air minum daur ulang, kemasan botol plastik dipakai ulang, apakah diinsafi kalau belum tentu aman bagi kesehatan.
Cemaran juga bisa datang dari kosmetik. Berapa merek kosmetik tak terdaftar dan lolos memasuki pasar jenis yang mengandung mercuri (Hg). Racun logam berat ini merusak tubuh, selain terakumulasi untuk waktu lama lewat kulit. Berapa jelek bahan kimia pada sejumlah jenis pengharum ruang yang belum tentu aman bagi kesehatan. Bahan timbel (Pb) dari bensin yang belum bebas timbel tergolong tidak aman juga.

Bagaimana pula kita memanen dan menyimpan kacang, padi-padian, umbi-umbian, sehingga tidak ditumbuhi kapang penghasil racun aflatoksin yang membahayakan tubuh. Aflatoksin sama jahatnya dengan pencemar kimiawi bagi hati. Kanker hati terjadi akibat lama mengonsumsi aflatoksin dari kacang, dan jamu yang dibuat dari bahan tercemar kapang. Termasuk racun lain dari tempe bongkrek.

Tak sadar kita sudah menelan berapa ratus, bisa jadi berapa ribu bahan kimia tambahan dalam makanan. Apa saja kimia yang berasal dari kue, penganan, bahan penggaring, antilengket mi, dan obat buat bikin roti, atau pengembang dalam kue. Tidak seluruhnya berbahaya. Namun, bagaimana aman pun zat kimia, ia tetap bahan asing bagi sel tubuh.

Seberapa bisa tubuh tidak sampai dicemari?
Industri makanan dunia terus menambahkan jenis kimia bagian dari teknologi pangan, yang mungkin baru di kemudian hari kedapatan tidak aman. Sejumlah pewarna, pengawet, pemanis buatan baru belakangan terbukti tidak aman bagi kesehatan.

Kanker- akibat diet
Kanker paling banyak disebabkan oleh faktor diet. Kita perlu lebih mewaspadai apa yang dikonsumsi. Bertahun-tahun mengonsumsi bahan kimia dari aditif makanan, tentu tubuh akan terganggu. Bahaya paling ditakuti jika mencetuskan kanker.

Kalau ditanya apa kasus kanker bertambah banyak, harus dijawab iya. Penyebabnya, semakin banyak cemaran pencetus kanker beredar di lingkungan manusia. Udara, air, tanah, selain makanan dan minuman, sudah dibanjiri oleh zat-zat karsinogenik si pencetus kanker.

Belum lagi dari gelombang elektromagnetik dalam peralatan elektronik. Radiasi monitor komputer, ponsel, selain paparan alam dari ultrared matahari, dan ozon. Tubuh orang sekarang sudah sangat kuyup oleh aneka pencetus kanker, selain dari makanan yang tidak menyehatkan.

Kesehatan ada di dapur
Ya benar. Kesehatan itu ada di dapur, bukan di restoran. Upayakan memperoleh menu harian dari dapur sendiri. Bukan saja lebih menyehatkan, efisien, sesuai selera, dan tentu lebih bersih. Kita tidak tahu bahan masakan di restoran sudah disimpan berapa lama, apakah diolah dengan minyak sehat, dan tak diimbuhi penyedap. Begitu juga jajanan. Buatlah sendiri ketimbang beli.

Dengan sangat berat hati, tanpa maksud menutup usaha restoran dan penjaja makanan, demi sehatnya rakyat kita, sikap itu harus tegak. Sebagian besar pihak belum tahu, dan pemerintah wajib memberitahu, kalau bahan, cara, dan pembuatan yang dikonsumsi masyarakat tidak seluruhnya aman bagi kesehatan.

Jika tidak, sampai kapan rakyat harus memikul beban ekonomi jika kondisi tidak sehatnya makanan dan minuman harian, dan ancaman kesehatan lain, masih terus tidak dilakukan langkah dan kebijakan politik yang tegas.

Kalau jamu nakal masih bikin tulang keropos, kencing manis, dan darah tinggi, dan sebagian penganan, akibat cara kemas, cara olah, bikin rakyat berisiko kena kanker kelak, ongkosnya kelewat mahal jika dibiarkan tanpa tindakan. Sekarang waktunya untuk bertindak.
Oleh: Dr. Handrawan Nadesul, Dokter Umum
Sumber: Senior

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar