Jumat, 16 Desember 2011

Terapi Humor Penakluk Demensia

SATU lagi manfaat tertawa bagi kesehatan telah ditemukan. Ya, tertawa ternyata sangat membantu pasien alzheimer berjuang melawan demensia. Terapi ini sudah dipraktikkan selama tiga bulan di sebuah panti jompo. Di panti itu, selama dua jam diterapkan sesi melucu. Pada terapi ini juga menggunakan alat peraga.
 
Tim investigasi menemukan bahwa 20 persen agitasi secara keseluruhan yang dikaitkan dengan humor berlangsung selama minimal 14 minggu di luar kesimpulan dari program melucu.
 
“Biasanya, suasana rumah jompo membuat kita seperti terjebak di kapal pesiar buruk di mana kita tidak bisa keluar,” kata Jean-Paul Bell, Direktur Kreatif Arts Health Institute, Avalon Beach, New South Wales. 

Bell dan rekan-rekannya berusaha untuk menerapkan apa yang disebut pendekatan atau terapi Person Centered, yakni menghubungkan secara visual dengan melihat lelucon, seperti meniru percakapan dua orang melalui dua kaleng, humor lisan yang provokatif dan sopan sehingga mendorong partisipasi aktif dari pasien.
 
Bell dan rekan-rekannya baru-baru ini mempresentasikan temuan tersebut di Forum Riset Nasional Demensia di Sidney. Para peneliti mencatat bahwa sekitar 70 persen dan 80 persen pasien demensia mengalami beberapa bentuk agitasi dan kesulitan yang mencakup serangan halusinasi, berteriak, dan perilaku yang berulang-ulang. 

Untuk meneliti seberapa banyak humor sehingga dapat membantu, peneliti fokus terhadap 399 penghuni panti jompo dengan demensia atau lainnya–usia terkait kondisi– di salah satu dari 35 fasilitas di Kota Sydney.
 
Semua pasien pernah tinggal di fasilitas tersebut sekitar tiga bulan. Namun, tidak dianggap dalam situasi akhir-hidup atau menderita psikosis yang parah.

Sebuah “ElderClown” dilatih untuk terlibat dalam terapi berbasis humor dengan pengaturan medis dan melakukan sesi humor mingguan. Untuk tingkat yang lebih tinggi, sesi mengandalkan keterampilan improvisasi humor. Hal itu mirip dengan yang digunakan ”dokter badut” yang mempertontonkannya kepada anak-anak yang sedang sakit. Tujuannya untuk mengubah suasana hati pasien, sementara melibatkan mereka dalam percakapan dan interaksi fisik.
 
Selain itu, staf bermitra dengan badut untuk terus mempromosikan humor di antara sesi terapi. Depresi, kualitas hidup, keterlibatan sosial, dan perilaku agitasi semua dinilai sebelum terapi. Penilaian juga dilakukan pada akhir program (tiga bulan) dan 26 minggu setelah terapi. Sementara, terapi humor tampaknya tidak memberikan pengaruh terhadap suasana hati atau kualitas hidup. Namun, terapi ini mempunyai dampak signifikan terhadap pasien agitasi—setara dengan efek setelah pemberian obat antipsikotik standar.
 
Agitasi menurun setelah 26 minggu peluncuran terapi. Namun, tim menyarankan terapi humor harus menjadi deretan utama pilihan pengobatan untuk pasien yang menderita demensia. San Fazio, Direktur Medical and Scientific Relations at the Alzheimer’s Association, yang berbasis di Chicago, menggambarkan penelitian tersebut sebagai “sangat baik dilakukan” dan “penting”. 

“Saya berpikir bahwa hal pokok yang menjadi alternatif yang baik untuk pengobatan farmakologi adalah sesuatu yang benar-benar perlu dipertimbangkan,” ujar Fazio.

“Kami membutuhkan penelitian yang lebih menunjukkan bahwa ada cara lain untuk bekerja dengan orang-orang daripada sekadar memberikan obat,” lanjutnya.

Fazio menambahkan, terapi humor adalah hanya salah satu hal yang berkaitan dengan pendekatan nonfarmakologis di antara berbagai pilihan yang layak, termasuk terapi seni dan terapi hewan peliharaan. “Mengurangi agitasi sangat bermanfaat,” katanya. 

“Dan, aku tidak mengabaikan terapi ini sama sekali karena dapat bekerja untuk banyak orang. Namun, kami perlu juga melihat apa yang menyebabkan agitasi, apa yang memicu? Dan, kemudian memutuskan dengan tepat bagaimana kami akan mendekatinya,” kata Fazio. (sumber : 
http://lifestyle.okezone.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar