Selasa, 28 Juni 2011

Pengidap HIV Pilih Merahasiakan Statusnya pada Pasangan


Pengidap HIV Pilih Merahasiakan Statusnya pada PasanganKetika harus mengungkap kondisinya, seorang pengidap HIV/AIDS sering berhadapan dengan risiko terkucilkan. Banyak yang memilih untuk menyembunyikannya, bahkan pada pasangan karena khawatir akan mendapat stigma negatif.

Dalam sebuah survei internasional yang diungkap dalam konferensi AIDS di Wina, 17 persen pengidap HIV/AIDS di seluruh dunia tidak terbuka pada partner seksualnya. Diduga hal ini disebabkan oleh faktor psikologis, karena data lainnya mengungkap bahwa 37 persen pengidap HIV juga mengalami depresi.

Dikutip dari WebMD, survei tersebut melibatkan tak kurang dari 2.000 orang pria dan wanita. Seluruh partisipan merupakan pengidap HIV positif yang diambil dari belasan negara di seluruh dunia.

Selain masalah keterbukaan dengan pasangan, para ahli juga mengkhawatirkan kurangnya komunikasi dengan dokter. Padahal seseorang yang hidup dengan HIV/AIDS umumnya rentan terhadap berbagai penyakit penyerta.

"Penyakit penyerta bisa muncul karena HIV itu sendiri, maupun akibat pengobatan antiretrovirus," ungkap Prof Jurgen Rockstroh, MD, PhD dari University of Bonn.

Adanya gap antara pasien dengan dokter dikhawatirkan akan berpengaruh pada kualitas hidup dan kondisi kesehatan jangka panjang. Sebab dalam memberikan pengobatan, dokter harus memerhatikan kondisi idividual termasuk lingkungan dan faktor lain misalnya kebiasaan merokok.

Kurangnya sikap terbuka dari para pengidap membuktikan bahwa diskriminasi dan stigma negatif masih menghantui para pengidap HIV/AIDS.

Hasil yang terungkap dalam survei tersebut adalah sebagai berikut:
1. 17 persen pengidap HIV/AIDS di seluruh dunia tidak terbuka pada partner seksualnya
2. 97 persen mengaku puas dengan layanan kesehatan, 84 persen yakin telah mendapat penanganan sesuai kebutuhan individual masing-masing
3. 74 persen mengatakan manfaat perawatan HIV/AIDS lebih besar daripada efek samping yang didapatkan
4. Lebih dari setengah mengaku hidup dengan satu atau lebih penyakit penyerta yang tergolong berat misalnya penyakit jantung, gangguan pencernaan dan hepatitis C
5. 65 persen pengidap yang mempunyai risiko tinggi mengalami sakit jantung tidak pernah mengomunikasikan kondisi jantungnya pada dokter
6. 62 persen pengidap tidak pernah mendiskusikan rencana untuk berhenti merokok pada dokter
7. 69 persen tidak pernah memeriksakan diri untuk risiko hepatitis C.
Di Indonesia saat ini sudah ditemukan obat herbal ajaib yang mampu melawan penyakit HIV/AIDS secara berkala. XAMthone plus namanya. Diproduksi dari keseluruhan buah manggis, artinya bukan saja daging buahnya tetapi seluruh kulitnya. Dengan menggunakan mesin berteknologi tinggi zat XANTHONE yang ada dalam kulit buah manggis diambil. XANTHONE merupakan zat dalam kulit buah manggis yang antioksidannya paling tinggi dari seluruh buah-buahan di dunia.
Menurut Dr Ir Raffi Paramawati, M.Si, dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, semua buah-buahan mengandung antioksidan, namun yang paling tinggi kandungan antioksidannya hanya dalam buah manggis dan itu terdapat pada kulitnya. Lebih jauh ia mengatakan bahwa tidak semua antioksidan yang ada dalam buah-buahan bersifat menyembuhkan penyakit, berbeda dengan manggis, kalau manggis kandungan antioksidannya mampu menyembuhkan berbagai penyakit.
Khasiat buah manggis yang luar biasa ini diakomodir sebuah perusahaan yang telah 20 tahun lebih memproduksi makanan dan minuman kesehatan maka lahirlah XAMthone plus. Sejak kehadirannya, XAMthone plus telah banyak membantu menyembuhkan berbagai macam penyakit berbahaya, salah satunya HIV/AIDS. Seorang konsultan HIV/AIDS Franklin di Bandung bersaksi dengan sangat yakin bahwa XAMthone plus telah menyelamatkan 88 nyawa manusia, 9 diantaranya sudah masuk stadium AIDS.
Kesaksian serupa juga diungkapkan oleh H. Ki Ageng S. Dewantara seorang therapist herbal yang berpraktik di Bali menegaskan bahwa selama dia menggunakan XAMthone plus untuk para pasiennya yang mengidap HIV/AIDS, sudah 4 orang sembuh dan dibuktikan secara medis. Rata-rata masa proses menuju kesembuhannya di bawah 1 tahun. Mas Kurnadi juga dari Bali bersaksi tentang kehebatan XAMthone plus menyembuhkan orang sakit HIV/AIDS. Seorang pemuda yang sudah putus harapan hidupnya karena usianya tinggal sebulan akibat HIV/AIDS. Setelah minum XAMthone plus selama 1 tahun, sekarang pemuda tersebut hidup sehat dan panjang umur.
Kisah-kisah kesembuhan para penderita HIV/AIDS yang diceritakan kembali oleh orang-orang tersebut di atas, dan kesembuhan itu karena mengonsumsi XAMthone plus bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Sejatinya kesembuhan-kesembuhan itu adalah karya penyelamatan Tuhan, campur tanganNya, mujizatNya dan cinta kasihNya yang begitu besar bagi manusia. Tuhan telah menghadirkan XAMthone plus untuk para penderita HIV/AIDS dan para penderita jantung, kanker, diabetes, stroke, stress, alzheimer, mystenia gravis, dll. Anda Percaya atau tidak? Andalah yang membuktikan sendiri rasa percaya itu. Salam Sehat XAMthone plus. Dari berbagai sumber.

Foto Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar