Selasa, 06 September 2011

Rahasia Panjang Umur Manusia Tertua di Dunia

foto

                 Banyak orang berusaha keras untuk mendapatkan hidup lebih lama. Mulai dari hal yang biasa seperti hidup sehat dan berolahraga, hingga hal-hal aneh yang di luar akal sehat. Tapi tahukah Anda, resep panjang umur dari manusia tertua di dunia? Ternyata tidak serumit yang kita bayangkan.
            Dilansir dari laman Daily Mail, Kamis, 19 Mei 2011, Maria Gomes Valentim yang dinobatkan sebagai manusia tertua, menurut Guiness World Records mengatakan setiap pagi ia sarapan dengan roti dan buah-buahan dan sesekali ia menyesap wine.
            Wanita asal Brazil ini tercatat berusia 114 tahun, 313 hari. Lebih tua 48 hari dari pemegang rekor sebelumnya, Besse, Cooper asal Georgia, Amerika.
            Cooper kini meraih predikat manusia tertua di Amerika Utara.
            Berdasarkan data Guiness, Valentim dilahirkan pada 9 Juli 1896 di Carangola, wilayah bagian tenggara Minas Gerais, tempatnya tinggal sepanjang hayat.
            Dikenal sebagai Nenek Quita, keluarga Valentim memiliki tabiat keras kepala. Mereka terbiasa menjalankan bisnis sendiri. Ayahnya pun hidup hingga umur 100 tahun.
            Cucunya, Jane Ribeiro Moraes, 63 tahun, berkata pada surat kabar lokal, “Nenek pernah berkata, ia bisa hidup lama karena selalu menjaga diri sendiri, bukan ‘meributkan’ orang lain.”
            Craig Glenday, Kepala Editor Guinness World Records, Valentim merupakan kasus yang jarang terjadi di Brazil. Mengetahui ada seseorang yang masih hidup, padahal ia terlahir saat pemerintahan Ratu Victoria, atau sebelum Ford Motor didirikan, atau bahkan George dan Ira Gershwin dilahirkan. Menjadi sangat luar biasa karena ia adalah orang Brazil.
            “Tak pernah ada orang Brazil yang bisa hidup panjang umur, kecuali sekarang.” Katanya.
            Sebenarnya Guinness mendapatkan beberapa laporan mengenai calon-calon lainnya yang lebih tua, tapi hingga kini masih belum dapat dibuktikan dengan fakta dan dokumentasi.
            Kesehariannya dihabiskan dengan duduk di kursi roda. Pihak keluarga berharap dengan banyaknya perhatian mungkin dapat membantu kebutuhan finansial Valentim untuk berobat.
            Menurut pihak keluarga, ia mendapatkan pensiun yang sedikit. Oleh sebab itu, untuk berobat mereka bergantung pada sistem kesehatan publik sebagai keluarga miskin yang tidak mampu membayar asuransi swasta.
            Valentim menikah dengan suaminya, Joao, pada tahun 1913. Kemudian suaminya meninggal pada tahun 1946. Kini ia hidup dengan memiliki satu anak laki-laki, empat orang cucu, tujuh orang cicit, dan lima orang anaknya cicit. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar