Jumat, 09 September 2011

Waspada Bila Mulai Sering Lupa




        Anda pernah merasakan tiba-tiba tidak dapat mengingat ketika melakukan sebuah rutinitas, seperti mengetik, menyalakan komputer, arah menuju kantor atau menuju rumah yang tercepat? Jika tiap hari mengalami hal seperti itu, boleh jadi, Anda tengah terserang penyakit demensia atau pikun.
            Penyakit demensia merupakan penyakit otak degeneratif yang progresif. Penyakit ini tergolong berbahaya, karena gejala atau pertandanya cukup sulit dideteksi. Padahal, penyakit ini berkembang semakin ganas bila tak tertangani secara tepat dan sejak dini.
            Seseorang yang terserang penyakit demensia mengalami gangguan koginitif dan memori atau mengingat suatu hal. Hal ini terjadi karena adanya sel-sel otak yang mati. Gangguan ini memberikan dampak pada aktivitas sehari-hari si penderita. Bila dalam jangka waktu lama penyakit ini tidak ditangani, maka akan terjadi perubahan perilaku pada diri penderitanya.
            Menurut Roul Sibarani, ahli saraf di Rumah Sakit Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre (MRCCC) Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, perubahan perilaku pada penderita tadi terbagi dua, yakni perubahan yang mengganggu (disruptive) dan tidak mengganggu (non-disruptive). “Ini bukan penyakit biasa,” papar Roul.

Faktor usia dan penyakit lain

            Penyakit demensia terdiri dari beberapa jenis, seperti demensia alzheimer dan demensia vaskuler. Ini merupakan beberapa jenis penyakit demensia yang sering menyerang pasien. “Pemicu penyakit ini bisa karena faktor usia dan efek dari penyakit lain, seperti stroke,” ujar Mulyadi Tedjapranata, Direktur Klinik Medizone, di Jakarta.
            Demensia alzheimer adalah kondisi dimana sel saraf pada otak mati, sehingga membuat sinyal dari otak tidak dapat ditransmisikan sebagaimana mestinya. Kematian sel-sel otak ini baru menimbulkan gejala klinis dalam waktu cukup lama, sekitar 30 tahun.
            Pada awalnya, penderita mengalami gejala mudah lupa, seperti tidak mampu menyebut kata yang benar, berlanjut dengan kesulitan mengenal benda hingga tidak mampu menggunakan barang-barang sekalipun yang termudah atau sering digunakan.
            Penyakit demensia alzheimer terbagi atas tiga stadium. Pertama, stadium satu atau amnestik yang berlangsung selama dua hingga empat tahun. Pada stadium ini muncul gejala gangguan memori, berhitung dan aktivitas spontan menurun. Fungsi memori yang terganggu adalah memori baru atau lupa hal baru yang dialami.
            Kedua, stadium dua atau demensia yang berlangsung selama dua sampai sepuluh tahun. Penderita mengalami disorientasi, mudah bingung, gangguan bahasa, penurunan daya ingat berat, seperti tidak mengenal anggota keluarga atau tidak dapat melakukan pekerjaan sehari-hari dan mudah tersesat di lingkungan. Sekitar 15% hingga 20% penderita demensia alzheimer stadium dua ini mengalami depresi berat.
            Ketiga, alzheimer stadium tiga yang berlangsung enam hingga dua belas tahun. Gejala klinis yang muncul, antara lain penderita yang vegetatif, tidak suka bergerak, dan membisu, daya intelektual dan daya ingat memburuk, tidak bisa mengendalikan buang air besar atau kecil, dan butuh asistensi orang lain dalam beraktivitas.
            Adapun demensia vaskuler dipicu oleh gangguan sirkulasi darah di otak. Gangguan ini bisa disebabkan beberapa penyakit pemicu, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, stroke, dan gagal jantung. “Beda dari demensia alzheimer, demensia vaskuler disebabkan kelainan pembuluh darah ke otak,” ungkap Roul.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar