Kamis, 27 Oktober 2011

Awas, Multivitamin Bisa Tingkatkan Resiko Kematian

Awas! Paracetamol Picu Kanker
Suplemen atau multivitamin kerap digunakan untuk menunjang kebutuhan nutrisi harian. Namun, sebuah artikel dalam jurnal Archives of Internal Medicine terbaru melaporkan, konsumsi suplemen dan mineral berhubungan dengan peningkatan angka kematian. Lho!


STUDI mengumpulkan data dari studi kesehatan pada 38.772 wanita dengan usia rata-rata 61,6 tahun di Amerika Serikat. Peneliti memeriksa penggunaan suplemen meningkat lebih dari 22 persen antara 1986 dan 2004.

Hasilnya, penggunaan multivitamin seperti vitamin B6, asam folat, zat besi, magnesium, seng dan tembaga, berkaitan dengan peningkatan resiko kematian pada populasi. Dan, konsumsi mineral zat besi dan tembaga adalah penyebab terburuk.

“Para wanita dalam penelitian termasuk di luar normal (anomali) karena mereka makan buah dan sayuran dua kali lebih banyak dari rata-rata nasional,” jelas Michael Roizen, MD dari YouDoc.

“Multivitamin membantu diet yang tidak memadai, namun tingkat kematian tinggi dalam populasi tidak dapat diuji secara akurat terhadap mereka yang berdiet dua kali rata-rata nasional.”

Penelitian ini menurut ahli adalah ‘studi antara’ yang masih membutuhkan beberapa penelitian kunci. Kemungkinannya, wanita dengan mortalitas yang lebih tinggi meningkatkan asupan multivitamin karena mereka merasa sakit dan mencoba membalikkan penyakitnya.

Roizen juga menjelaskan, studi tidak menyertakan suplemen yang meningkatkan harapan hidup seperti suplemen minyak ikan (DHA).

“Mereka tidak mempelajari asupan suplemen DHA atau minyak ikan, yang telah terbukti dapat melindungi dari degenerasi. Ini telah terbukti berguna dalam uji acak sebagai suplemen untuk wanita di atas 50. Dengan kata lain, bisa saja suplemen tidak menyebabkan tingginya kematian,” ujar Roizen seperti dikutip dari Shine.

Suplemen zat besi dan tembaga, menurut studi, menyebabkan resiko kematian lebih besar dari 5 %, namun dinilai masih lebih kecil. “Suplemen zat besi menimbulkan resiko dan disarankan hanya untuk usia 50 tahun ke atas dan hanya diresepkan dokter. Hindari suplemen zat besi dan tembaga kecuali diperintahkan dokter,” ujarnya.

Dia menyarankan, agar mengasup makanan alami untuk memperoleh manfaat dari berbagai nutrisi daripada menggunakan multivitamin.

Sebelumnya pada Maret lalu, editor majalah Today’s Health and Nutrition Madelyn Fernstrom mengatakan  ada kemungkinan seseorang bisa overdosis vitamin dan berdampak buruk pada sistem. Selama ini orang-orang hanya berpikir mana ada vitamin yang buruk, nyatanya konsumsi vitamin terlalu banyak memiliki efek yang merusak kesehatan.

Misalnya saja kalsium dan vitamin D. Dosis harian yang dianjurkan untuk kalsium adalah seribu miligram dengan batas maksimal 2.000 sampai 2.500 miligram. Kalsium sebenarnya banyak ditemukan dari susu, jeruk, brokoli atau tahu. Jadi kecil kemungkinannya orang kekurangan kalsium. Jika terlalu berlebih ada dampak negatif yang muncul seperti batu ginjal, sembelit, mudah marah dan cepat lelah.

Sedangkan untuk vitamin D, asupan yang disarankan adalah 600 sampai 800 unit sehari, dengan maksimal 4.000 IU per hari. Jika berlebih dapat menyebabkan nyeri otot dan sendi, sembelit dan kemurungan.

Namun, ahli diet dan gizi dari Beth Israel Medical Center Megan Fendt menjelaskan bahwa tidak ada bahaya nyata bagi kesehatan jika overdosis vitamin. Tubuh memberikan kompensasi pada beberapa vitamin untuk larut dalam air dam menghilang melalui urin.

Tubuh dapat membersihkan diri dari setiap kelebihan jumlah vitamin dan ini sebenarnya perlindungan tubuh terhadap racun, tapi perlu diperhatikan kalau semakin banyak vitamin yang Anda ambil maka semakin sedikit tubuh Anda dapat menyerap,” katanya.

Jadi, kalau mau sehat yang alami tetap lebih baik. (sumber : http://www.surabayapost.co.id)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar