Rabu, 19 Oktober 2011

Wajarkah Penderita Demensia Jadi Pelupa?


Wajah-wajah orang dengan demensia (“Faces of Dementia”) adalah tema World Alzheimer Day 2011 yang dicanangkan oleh Alzheimer Disease International - www.alzheimer.co.uk. Berbagai bentuk dan gejala pada orang dengan demensia dapat terlihat di sekitar kita, baik dalam keluarga, tetangga, maupun di lingkungan kerja. Gejala orang dengan demensia yang paling mencolok adalah pelupa yang melampaui batas kewajaran. Yakni, sangat sering lupa sampai membuat aktivitas keseharian terganggu, dan tidak mampu lagi melakukan pekerjaan ataupun merawat diri. Lupa pada demensia terutama adalah lupa untuk hal-hal terkait peristiwa (memori episodik) dan kesulitan menyebutkan nama benda.


Gejala lain adalah sering keliru dan salah bertindak dalam membuat keputusan, seperti menentukan waktu (siang / malam), tidak bisa menggunakan peralatan rumah tangga, lupa menyimpan barang atau meletakkan di tempat yang tak biasa, tidak mengenali orang atau rumah sendiri.

Adanya penyandang demensia dalam keluarga akan memengaruhi keharmonisan hubungan inter-personal, kesulitan berkomunikasi, dapat timbul ketegangan, bahkan konflik atau berbantahan. Terlebih jika anggota keluarga tidak memahami bahwa perilaku penyandang demensia itu sebenarnya adalah gejala penyakit demensia Alzheimer yang sebaiknya ditanggulangi. Sikap dan respons pendamping penyandang demensia menentukan persepsinya. Yakni, menganggap kerepotannya adalah beban atau justru menjadi kesempatan berbakti.

Bisa saja penyandang demensia adalah orangtua kita, nenek, kakek, sanak saudara, tetangga, guru -orang yang kita kagumi dan hormati- yang dulu menjadi panutan bagi kita. Mereka kini seolah berubah total menjadi orang yang berbeda meskipun fisiknya tetap serupa.

Bisa jadi terpikir oleh keluarga penyandang, apakah hal ini kutukan, tenung, atau guna-guna? Di awal perjalanan demensia Alzheimer, seringkali anggota keluarga belum menyadari sepenuhnya bahwa pelupa dan perubahan perilaku orang yang kita sayangi itu adalah gejala kepikunan tidak wajar, yaitu sindrom demensia yang dapat disebabkan oleh penyakit Alzheimer (60 persen), stroke, Parkinson, HIV-AIDS, ataupun penyakit lain.

Kondisi Indonesia

Saat ini, jumlah penyandang demensia di Indonesia hampir satu juta orang. Sebagian besar dementia tipe Alzheimer yang gejala dininya berupa pelupa dan kesulitan visuospasial sering terlewatkan sehingga sulit mengetahui waktu pasti munculnya penyakit lain, seperti stroke, diabetes, depresi, hipertensi, atau kolesterol. Ketika diperiksa dokter baru disadari telah ada proses demensia. Angka kejadian demensia di Asia Pasifik adalah 4,3 juta per tahun (2005) yang akan meningkat menjadi 19,7 juta per tahun pada 2050. artinya, laju demensia adalah 1 kasus baru setiap 7 detik. Umumnya, penyandang demensia dibawa ke RS sebab ada perilaku yang membuat keluarga tidak nyaman, seperti terlalu ramah atau sebaliknya marah-marah, curiga berlebihan.

Kadang keluarga tidak sanggup lagi menghadapi penyandang demensia. Namun, apakah kita tega menaruh orang yang kita sayangi di panti jompo atau mengisolasinya dalam rumah.

Hal ini membuat anggota keluarga penyandang demensia merasa bingung dan ambivalen antara rasa bersalah dan rasa ingin berbakti.

Ditemukan awal abad XX

Penyakit Alzheimer ditemukan oleh Alois Alzheimer tahun 1907, pada seorang wanita berusia 51 tahun dengan gejala pelupa parah dan paranoid berat.

Ketika dilakukan otopsi pada otak perempuan itu ditemukan penimbunan plak amiloid dan kekusutan serabut saraf yang sangat banyak sehingga para ahli berhipotesis, plak dan kekusutan ini yang menyebabkan terjadinya penurunan fungsi otak.

Masih ada hipotesis lain penyebab demensia tipe Alzheimer yang harus dikaji dan menjadi acuan untuk mencari obat penyembuh Alzheimer.

Terapi Alzheimer saat ini masih sebatas mengobati gejala dan mengelola gejala dengan berbagai strategi pendekatan (perilaku, pembiasaan, suportif, konseling, ataupun seni cara pendampingan yang sesuai melalui program khusus. Sarana dan prasarana untuk penyandang demensia di Indonesia masih jauh dari memadai, demikian pula pemahaman masyarakat dan profesi (medis dan nonmedis), terhadap demensia. Harapannya, semoga penyandang demensia mendapat perhatian dari pemerintah, kalangan profesi, dan kaum muda Indonesia karena di negara-negara lain, demensia sudah menjadi prioritas nasional (antara lain Australia dan Korea).

Di Indonesia, meski obat tersedia, hanya sebagian kecil pasien Alzheimer yang mampu menjangkau. Obat-obatan ini dapat memperbaiki fungsi kemandirian penyandang demensia melalui perbaikan daya ingat dan daya atensi, daya orientasi, kelancaran berbicara, dan mengurangi perburukan progresif dengan cara menstabilkan jumlah dan kondisi neurotransmitter pada celah sinaps, yaitu sambungan antarsel saraf (secara neuro-kimiawi dan neuro-elektrik). Peran keluarga menjadi penting mengingat keluarga adalah orang terdekat pasien.

Tingkatkan kepedulian

Semua manusia akan jadi tua, dan umur merupakan faktor resiko demensia yang tak dapat dielakkan. Perlahan tetapi pasti, penyandang demensia mengalami penurunan fungsi otak (mengingat, berpikir logis, berbahasa, membuat keputusan, berorientasi) dan penurunan kemampuan merawat diri ataupun melakukan aktivitas. Akibatnya, keseharian penyandang harus dibantu dan didampingi oleh orang lain.

Dampak demensia sungguh luar biasa, masa hidup penyandang sejak muncul gejala awal sampai meninggal dapat berlangsung 10 - 15 tahun. Biaya yang diperlukan untuk merawat sangat besar, baik untuk obat, vitamin, pendamping, maupun kebutuhan dasar hidup. Biaya perawatan demensia di Asia Pasifik 60,4 miliar dollar AS (2003). Biaya perawatan demensia lebih besar daripada biaya perawatan penyakit malaria, tetanus dan kanker. Apakah Indonesia sanggup menghadapi masalah demensia seiring meningkatnya penduduk usia lanjut.

Rasanya tak ada satu negara pun yang merasa mampu mengatasi demensia Alzheimer sekalipun Amerika ataupun Singapura.

Untuk mempercepat gerakan dementia awareness, Asosiasi Alzheimer Indonesia (AAzI) bekerjasama dengan Asosiasi Alzheimer Netherland membuat sejumlah program untuk tiga tahun ke depan (2011 - 2014). Program utama adalah raising awareness selain pelatihan dan pembinaan sukarela. Untuk mendukung program-program peduli penyandang demensia tentu dibutuhkan banyak relawan sebagai sumber energi penggerak. Siapa mau menjadi motor peduli Alzheimer di Indonesia? (sumber : health.kompas.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar